Pertama Kalinya di Indonesia Pelatihan Hybrid

Pertama Kalinya di Indonesia Pelatihan Hybrid Pengembangan Kapasitas Kemampuan Polisi dengan LMS Latihanpolisi.id. di Polres Trenggalek.

Latihanpolisi.id adalah Pelatihan yang Menyenangkan untuk 649 Anggota Polri di Polres Trenggalek terdiri dari 335 personel di Polres dan 317 di 13 Polsek dengan tetap mengedepankan Protokol Kesehatan Covid-19 dengan physical distancing dan menggunakan masker, Penyelenggara Pelatihan Elektronik Latihanpolisi.id Kapolres Trenggalek Akbp Dwiasi Wiyatputera didampingi oleh wakapolres kompol Heru Purnomo Sik ,Kepala Bagian SDM Polres Solichin Kabag Perencanaan Kompol Ana dan Kabag Ops Jimmy Manurung Sik.Dalam Menjawab Permasalahan Metode Peningkatan kompetensi
Sdm Polres untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi terkini. Untuk itu diperlukan pelaksanaan program peningkatan ketrampilan (up- skilling) atau pembaruan ketrampilan (re-skilling) bagi sumber daya manusia berdasarkan kebutuhan dunia kerja saat ini. Namun demikian kompetensi yang dibutuhkan tidak hanya terkait dengan hal yang teknis tapi hal yang non teknis harus menjadi perhatian.
Peningkatan dan pengembangan kompetensi bertujuan agar dapat memberikan kontribusi pada peningkatan produktifitas, efektifitas

Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi digital mampu memberikan perubahan yang cukup signifikan dalam berbagai sektor kehidupan. Selain bidang komunikasi dan hiburan, salah satu contoh nyata bisa kita temukan dalam dunia pendidikan dan Pelatihan .Dari beberapa Kajian Polres Trenggalek menyusun dan menggunakan platform digital hybrid Pelatihan yang Salah satu manfaat yang paling terasa dengan adanya teknologi Learning Management System (LMS) adalah proses distribusi materi pembelajaran yang jauh lebih cepat. Kini, para Personel Polres Trenggalek bisa lebih mudah untuk mendapatkan berbagai materi pelatihan, latihan soal, dan asesmen online dan materi pembelajaran lainnya melalui e-book yang telah di upload oleh Admin . Tidak sampai disitu, teknologi Learning Management System (LMS) bahkan kini sudah bisa menjalankan ujian secara online, evaluasi dan penilaian bagi Personel, Pelatih secara professional tanpa adanya tekanan. Bahkan LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, ataupun surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming, serta tampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data.Untuk pelaksanaan sudah 6 kali pelatihan kompetensi kepemimpinan diri dan etika profesi penggunaan kekuatan polri yang sudah diikuti 360 personel.
Selaku Inisiator dan pelindung pelatihan ini, Karo SDM Polda Jawa Timur Kombes Pol Harry Kurniawan mengatakan dalam pelatihan peningkatan kemampuan untuk personel Polri para Personel Polri menerima penjelasan materi dan dipraktekan secara langsung antara lain Pengenalan Aplikasi E-Learning Latihanpolisi.id, Cara Login dan Pengisian User Name beserta Password, Mempelajari isi dari menu E-Learning (Beranda, Jadwal, Nilai Personel, Kelas, Ujian, Tugas, Penilaian Pelatih).
Materi Pelatihan
Mengadakan pelatihan empati bagi anggota Polri di berbagai level dan unit kerja. Ada keterampilan dan pengetahuan yang dapat dipelajari dan disosialisasikan kepada anggota polri, seperti kecerdasan emosi, manajemen konflik nirkekerasan, pendidikan kemajemukan dan multikulturalisme, dan komunikasi efektif.Dalam Latihan Polisi.id adalah 1 kali 1 jam pelatihan kemampuan dapat meningkatkan kompetensi 60 personel jadi target kami untuk 650 personel kami bisa jadwalkan dalam 10 kali jadwal sudah bisa melatihkan 1 kompetensi untuk 1 Polres .contohnya Kompetensi Etika pelayanan Publik menerima telpon dari masyarakat ,etika verbal komunikasi publik dan pengembangan Kepemimpinan diri dan kerjasama juga kompetensi Teknis .Kemitraan dengan masyarakat. karena pelatihnya juga dengan sistem kolaborasi selain dari internal yang bersertifikasi juga dari eksternal dari dosen universitas yang berakteditasi A ,dinas pendidikan .Tokoh Agama dan BMKG.
Melihat perkembangan Learning Management System (LMS) dari masa ke masa yang terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi dengan efektivitas dan fleksibilitas yang dimiliki, maka penggunaan Aplikasi LMS di Polri sebagai institusi Pelayanan Kepada Masyarakat menjadi sebuah tuntutan yang menjadi keharusan untuk mewujudkan Polri Presisi.

Lebih lanjut dikatakan, Learning Management System (LMS) merupakan perangkat lunak sebagai sarana pembelajaran jarak jauh secara virtual yang dapat dilakukan tanpa harus saling bertatap muka antara Personel dengan Pimpinan maupun tenaga Pelatih. Terlebih di tengah pandemi covid-19 ini, yang mengedepankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak. Maka Learning Management System (LMS) memang sangat diandalkan. Karena dapat mempermudah Personel dan tenaga pelatih melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara virtual. Sistem E-Learning ini juga merupakan pembelajaran elektronik dalam sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan dibidang Pelatihan berupa website yang dapat diakses dimana saja dan dengan waktu bebas kapan saja.

Pada tahun 2019 lalu, Polres Trenggalek telah meraih predikat yang sangat membanggakan yang merupakan idaman seluruh instansi pemerintah dan dambaan seluruh lembaga pendidikan dengan diraihnya Wilayah Bebas Korupsi (WBK)dari Kementrian PAN dan Mendapatkan 3 Rekor MURI dan Penghargaan Komisi Perlindungan Anak .Hal tersebut diatas menjadi suatu motivasi untuk Polres Trenggalek Membuat Terobosan yaitu dibidang Pelatihan Pengembangan Kapasitas Kemampuan selaras dengan Instruksi Bapak Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo yang memiliki program bagaimana mewujudkan transformasi Polri menuju Polri yang Presisi. Dimana di dalamnya harus memiliki kemampuan prediktif, memiliki kemampuan etika untuk responsibilitas dan mampu melaksanakaan tugasnya secara transparansi berkeadilan dan ditindak lanjuti Arahan Teknis Bapak Kapolda Jawa Timur untuk Kapolres agar dapat membuat metode pelatihan yang mengembangkan pelatihan peningkatan kemampuan kapan saja dimana saja dengan menggunakan platform Teknologi informasi agar dapat bertugas melaksanakan kewenangan dan tanggung jawabnya dengan Baik . Polri terdiri dari 34 Polda dan 455 Polres ,Polres Trenggalek adalah yang memulai dalam penerapan Aplikasi Learning Management System (LMS) kepada personel Polri untuk pertama kalinya yang melaksanakan pelatihan elektronik di seluruh polres di indonesia.

“Jadi,setelah elektronik pelatihan ini para personel polri dipolres Jajaran Jawa Timur dapat meningkat kapasitas kompetensinya secara etika ,teknis dan Kepemimpinan serta Kemitraan dengan masyarakat kapan saja dimana saja secara hybrid sehingga kedepannya akan lebih baik bagi Polri sebagai lembaga pelayanan publik maupun sdmnya yang melaksanakan tugas Harkamtibmas ”, ujar Kapolda Jawa timur Irjen Pol Dr Nico Afinta . Kegiatan ini selaras dengan Program Prioritas Kapolri Jendral polisi Listyo Sigit dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Polri yang presisi.

Read More

Prinsip Penggunaan Kekuatan dan Senjata Api oleh anggota Polri dalam Tindakan Kepolisian

Prinsip Penggunaan Kekuatan dan Senjata Api oleh anggota Polri
dalam Tindakan Kepolisian Penggunaan Kekuatan adalah segala penggunaan/pengerahan daya, potensi atau kemampuan anggota Polri dalam rangka melaksanakan tindakan kepolisian.

SOP petugas Polisi diatur dalam Perkap no 1 Tahun 2009 Tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian Lembaga Amnesty International Indonesia mencatat sepanjang 2020 ada 402 kekerasan yang diduga dilakukan polisi di 15 provinsi. Selain itu ada 20 kasus pembunuhan di luar hukum yang diduga dilakukan oleh aparat keamanan di Papua, dengan total 29 korban.
Mengutip laman resmi Amnesty International Indonesia, berdasarkan Prinsip-Prinsip Dasar PBB Tentang Penggunaan Kekuatan dan Senjata Api oleh Penegak Hukum(BPUFF) dan Kode Etik Aparat Penegak Hukum (CCLEO) ada empat prinsip yang harus diikuti petugas Kepolisian dalam menggunakan kekuatan.

Pertama, asas legalitas. Aparat hanya boleh menggunakan kekuatan jika tujuan yang hendak dicapai itu sesuai dengan hukum dan cara-caranya juga memenuhi hukum.

Kedua, polisi harus menerapkan asas nesesitas (Keperluan) yang berarti harus menimbang apakah penggunaan kekuatan pada masyarakat sipil benar-benar diperlukan dan benar-benar tidak ada metode alternatif lain yang bisa untuk mencapai tujuan yang sama.

Ketiga, asas proporsionalitas. Artinya saat penggunaan kekuatan tidak dapat dihindari, maka kekuatan yang dikerahkan aparat harus proposional dengan tindak pelanggaran yang dilakukan.

Keempat, asas akuntabilitas. Pemerintah dan institusi penegakan hukum harus menetapkan prosedur yang jelas dalam penggunaan kekuatan oleh personel polisi dan mengambil tindakan-tindakan remedial saat prosedur tersebut tidak diikuti.

Intinya, menurut Amnesty International Indonesia, polisi dituntut untuk selalu mencoba mengunakan metode tanpa kekerasan terlebih dahulu dalam setiap situasi. Polisi dituntut meningkatkan respons mereka secara bertahap, dan mencoba meminimalisir kerusakan dalam penggunaan kekuatan .
strategi Pencegahan Penyalahgunaan Senjata Api di Masing masing Kesatuan yang dapat dilakukan :

1.Perketat Pengajuan Senpi
2.pengawasan Dan Pengecekan Mental dan Perilaku Individu
3.pembatasan penggunaan senjata api dalam Unjuk Rasa
4.Penggunaan senpi harus memperhatikan Prinsip NLPA:
asas Nesesitas
asas Legalitas
asas Proporsionalitas
asas Akuntabilitas

5.Bila terjadi Penyalahgunaan Segera diproses secara tegas dengan undang-undang yang berlaku.
Prinsip Penggunaan Senjata Api
Apa yang harus dilakukan polisi sebelum menggunakan senjata api?
Polisi harus mengidentifikasi diri mereka sebagai pihak berwajib yang membawa senjata api dan memberikan peringatan bahwa mereka akan menggunakan senjata tersebut. Polisi juga harus memberi waktu kepada individu yang ditarget untuk mematuhi peringatan tersebut.
Langkah-langkah ini hanya bisa dilewatkan jika target membahayakan nyawa aparat atau orang lain atau pada situasi di mana peringatan itu tidak tepat (misalnya saat polisi melakukan operasi yang membutuhkan elemen kejutan) atau situasi di mana peringatan itu jelas akan sia-sia (misalnya dalam serangan bunuh diri atau saat menghadapi orang yang mabuk atau sakit jiwa, kalau kondisi tersebut membuat orang itu tidak mau atau tidak bisa mengerti peringatan tersebut).
Apa yang harus dilakukan polisi setelah menggunakan senjata api?
Polisi harus segera memanggil bantuan medis bagi target tembakan senjata api untuk menangani luka akibat tembakan tersebut. Selain itu polisi juga harus menghubungi teman maupun keluarga korban untuk memberi kabar mengenai kondisi dari target yang tertembak.
Setelah kebutuhan korban telah terpenuhi, harus ada laporan yang lengkap mengenai aksi penembakan, termasuk bukti-bukti yang telah diamankan sehingga lebih mudah untuk melakukan investigasi mengenai kasus yang sedang terjadi dan mengapa akhirnya penembakan itu menjadi hal yang diperlukan. Pihak kepolisian juga wajib untuk mengizinkan dan kooperatif dalam investigasi terhadap setiap insiden penggunaan senjata api.
Apa yang perlu diperhatikan dalam investigasi penggunaan senjata api oleh polisi?
Investigasi yang dilakukan sifatnya harus segera, imparsial, menyeluruh dan mandiri. Artinya, investigasi hanya boleh dilakukan oleh pihak yang berbeda dengan individu-individu yang terlibat dalam insiden penembakan.
Investigasi yang dilakukan harus bertujuan untuk menentukan apakah penggunaan senjata api sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku dan dengan prinsip-prinsip dalam hukum internasional.
Pihak aparat juga harus bersikap kooperatif terhadap investigasi ini dengan menyimpan semua barang bukti yang ada secara aman. Bukti-bukti termasuk testimoni dari saksi, bukti forensik dan jika diperlukan bukti dari otopsi tentang luka yang didapat korban dan temuan-temuan medis.
Selain itu, sangat penting bagi pihak keluarga korban untuk dilibatkan secara penuh dalam proses investigasi dan juga harus dilindungi dari segala bentuk intimidasi. Temuan dari tim investigasi harus dibuat terbuka kepada publik agar ada aspek pengawasan dari masyarakat.
Jadi, apa kesimpulannya?
Kita semua memiliki hak-hak jika mengalami konfrontasi dengan aparat penegak hukum, dan polisi tidak bisa dengan otomatis dibenarkan saat menggunakan kekerasan.
Polisi memang diperbolehkan menggunakan kekuatan dan juga senjata api, tapi tidak dengan sewenang-wenang dan tidak dalam semua situasi – sebaliknya, penggunaan metode-metode kekerasan seperti itu hanya boleh menjadi alternatif terakhir, saat semua cara-cara lain sudah dicoba dan gagal.
Investigasi terhadap penggunaan kekerasan dan senjata api oleh polisi juga harus dilakukan dengan seterbuka mungkin agar aparat penegak hukum akuntabel terhadap masyarakat yang dilayaninya.

Oleh: Dwiasi Wiyatputera, S.H., S.I.K., M.H. – Kapolres Trenggalek, Polda Jawa Timur. Penyidik Tindak Pidana Umum Polri bidang Keamanan Negara – Harta Benda, Assesorr SDM Polri, Investigator Paminal DivPropam Polri.

Read More

Panduan Penanganan Konflik Oleh Anggota Polri.

Pekerjaan polisi sebagai penegak keamanan dan pelindung terkait erat dengan konflik yang terjadi di masyarakat. dasar Penanganan Konflik Sosial Sudah Diatur sesuai SOP yaitu Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2013 tentang Penanganan Konflik Sosial 

pendahuluan 
Bagaimana meningkatkan citra baik Polisi, itulah sekarang yang  menjadi persoalan penting agar dapat menumbuhkan partisipasi masyarakat. Sebab tanpa citra yang baik, mustahil Polisi bisa merangsang masyarakat berpartisipasi. Partisipasi yang baik juga tidak akan bisa diharapkan tumbuh dari himbauan-himbauan semata tanpa diimbangi kegiatan untuk mengaktualisasikan himbauan itu menjadi karya nyata yang dapat meringankan beban dan penderitaan masyarakat. Berkaitan dengan itulah diharapkan insan[1]insan Polisi mampu menampilkan sikap yang berwibawa, simpatik, dan rela mengkesampingkan kepentingan pribadi. Polisi harus responsif dan senantiasatanggap akan pengaduan masyarakat serta mampu menciptakan situasi yang tentram.

Disinilah perlunya polisi menentukan posisinya apakah sebagai tokoh protagonis ataukah tokoh antagonis. Sebagai tokoh protagonis, maka Polisi  mengambil posisi di dalam masyarakat sehingga lebih mudah melakukan upaya  pendekatan dengan masyarakat, melakukan instrospeksi diri dan 
mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dinamika masyarakat. Kemampuan beradaptasi dan menyatu dengan masyarakat akan memudahkan pekerjaan Polisi. Sebab tanpa menyatu dengan masyarakat tidak akan  membuat Polisi dan masyarakat menjadi akrab. Artinya, masyarakat tidak akan menilai Polisi sebagai sosok yang asing, yang menakutkan dan perlu dijauhi. Melainkan sosong pengayom, pelindung, pencipta keamanan, dan penegak keadilan. Polisi yang bertindak seperti inilah yang didambakan masyarakat. Polisi juga perlu menentukan kapan dia harus bertindak sebagai tokoh antagonis, yang bersikap sebagai pengamat dan pengawas di luar masyarakat. Sikap ini terkadang perlu untuk menjadi jarak atau kecurigaan dari pihak yang 
sedang buron. Polisi harus pandai menyamar dalam melakukan surveliance (pengamatan) maupun penetrasi (penyusupan ke daerah sasaran), sehingga tidak memberikan ruang gerak kepada penjahat untuk kabur atau melakukan aksi jahatnya. Partisipasi masyarakat memang mutlak dibutuhkan untuk nmenciptakan  stabilitasKamtibmas yang mantap dan dinamis. Jepang, sebuah negara yang tergolong aman telah menyadari bahwa upaya untuk menciptakan keamana  bukanlah tanggung jawab Polisi dan aparat penegak hukum semat, melainkan tugas dan tanggung jawab segenap lapisan masyarakat tanpa terkecuali, sebab hasilnya pun akan dinikmati bersama. Sehingga tak heran kalau Prof. Watanabe, sosiolog kenamaan Jepang mengatakan, bahwa keberhasilan Jepang membina stabilitas keamanan sangat ditentukan oleh rakyatnya sendiri. 

Lalu, bagaimana dengan kita? Seiring dengan perkembangan masyarakat maka perubahan merupakan siklus yang terus eksis. Ia merupakan segala bentuk kejadian, peristiwa, tragedi, permasalahan yang datang silih berganti. Oleh karna itu dalam msyarakat senantiasa bergerak, selalu berubah, dan gerakan atau perubahan adalah sesuatau yang tetap. Setiap perubahan selalu berdampak pada pola prilaku masyarakat. Bagi masyarakat yang telah siap dengan perubahan tak menimbulakan masalah baginya.Tetapi bagi masyarakat yang belum siap tidak jarang perubahan menimbulkan kekecewaan, tidak memuaskan, tidak sesuai dengan harapan. Hal itu kemudaian direspon dengan prilaku yang tidak tepat. Munculah konflik dalam masyarakat yang berdampak pada kondisi ketidakpastian.Polisi bertugas untuk menjamin sebuah kepastian dalam masyarakat, dan jika terjadi tidak kepastian maka polisi bertanggung jawab mengubahnya menjadi pasti. Disinilah Polisi harus mampu menyimak, menganalisis konflik, yang muncul, yang disertai dengan kekuatan berfikir, bernurani, dan bertindak.Maka semua konflik sebagai sumber kepastian dapat dikelola menjadi sebuah kekuatan yang besar. Dalam Artikel ini akan disampaikan beberapa materi yaitu Identifikasi , Penghentian dan Pemulihan Pasca Konflik, dan aspek aspek dalam manajemen konflik berbagai gaya manajemen konflik, meneyelesaikan konflik, komunikasi sebagai metode penyelesaian konflik, serta intervensi sebagai metode penyelesaian konflik yang bertujuan sebagai pembekalan dan reverensi bagi anggota Polri dalam pelaksanaan tugas nanti.

Bentuk-bentuk konflik itu misalnya sengketa tanah, konflik keagamaan, dan konflik berbasis etnis. Polisi seringkali mengalami kesulitan memahami konflik. Untuk mengurangi kesulitan itu, polisi perlu membekali diri dengan panduan yang jelas bagaimana menganalisis konflik yang sedang terjadi. Analisis ini bisa dilihat dari tiga hal pokok, yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, isu konflik, dan apa yang melatarbelakangi terjadinya konflik tersebut.

Pihak-pihak Yang Terlibat

A. Siapakah mereka?

1. Siapa yang bertanggungjawab mengambil keputusan?
2. Siapa yang akan terkena dampak dari solusi yang akan diambil?
3. Siapa yang dapat menentang atau mendukung keputusan
tertentu?

B. Siapakah stakeholder utama?

1. Siapakah stakeholder utama? Mengapa?
2. Siapakah stakeholder sekunder?

C. Bagaimana mereka mengorganisasi diri?

1. Apakah pihak yang berlibat merupakan organisasi?
2. Bagaimana strukturnya – hirarkis? Kolektif?
3. Apakah pimpinan organisasi jelas?
4. Bagaimana hubungan antara pimpinan dan yang lain?

D. Apa basis kekuasaan dan pengaruh masing-masing pihak?

1. Apakah ada pihak yang dapat memblok keputusan yang tidak
mereka terima?
2. Apakah ada pihak yang memiliki insentif meningkatkan
(eskalasi) konflik?
3. Apakah ada pihak yang memerlukan bantuan dan dampingan
supaya dapat berpartisipasi dalam proses pembuatan
keputusan bersama?
4. Bisakah pihak-pihak membuat dan menerapkan keputusan
yang mereka terima?

E. Bagaimana kekuasaan digunakan dalam konflik?

1. Apakah ada pihak yang menggunakan kekuasaan mereka untuk menghalangi pihal lain mencapai tujuan mereka?
2. Apakah ada pihak yang menggunakan kekuasaan dan pengaruh mereka untuk mebantu pihak lain?

F. Apa yang diinginkan setiap pihak?

1. Apakah posisi yang dinyatakan setiap pihak?
2. Apakah sasaran yang dinyatakan setiap pihak?
3. Apakah kepentingan mendasar setiap pihak?
4. Apakah posisi, sasaran, kepentingan, nilai, dan isu pihak
tertentu mengancam identitas pihak lain?
5. Apakah ada kepentingan bersama yang dapat menjadi basis
bagi kesepakatan?

G. Bagaimana hubungan di antara mereka di masa lalu?

1. Apakah ada sejarah hubungan di antara pihak-pihak yang bertikai?
2. Apakah sejarah hubungan tersebut penuh konflik atau produktif?
3. Apakah hubungan tersebut ditandai dengan rasa
4. Apakah ada pihak yang menghindar dari pihak lain karena menganggap sulit berhubungan dengan mereka?

H. Bagaimana hubungan mereka saat ini?

1. Apakah hubungan di antara pihak-pihak berubah sepanjang
waktu?
2. Apakah sekarang ada hubungan kerja di antara mereka?
3. Bagaimana pihak-pihak berkomunikasi satu sama lain?
4. Jika mereka tidak berkomunikasi secara langsung, apakah
ada perantara atau penengah yang dapat dipercaya?
5. Apakah pihak-pihak yang terlibat saling menerima peran masing-masing dalam mengembangkan keputusan bersama?

I. Bagaimana keinginan mereka terhadap hubungan di masa yang
akan datang?

1. Apakah di antara pihak-pihak tersebut ada keinginan menjalin
hubungan kerja di masa mendatang?
2. Apakah pihak-pihak yang terlibat harus bekerja sama dalam
menerapkan kesepakatan?
3. Apakah pihak-pihak terpaksa berinteraksi secara reguler karena
pekerjaan atau jaringan mereka?

Isu Konflik

A. Apa sajakah yang menjadi isu konflik?

1. Bagaimana setiap pihak menggambarkan apa yang menjadi
masalah atau isu pokok mereka?
2. Apakah isunya berbeda bagi mereka yang memiliki otoritas
untuk mengambil keputusan dibandingkan mereka yang ingin
mempengaruhi keputusan?
3. Dapatkah masalah yang ada ditangani dalam suatu proses
pengambilan keputusan bersama?
4. Apakah ada isu dan masalah sekunder yang akan
mempengaruhi proses atau hasil manajemen konflik?
5. Apakah ada bingkai yang dapat mempertemukan keprihatinan
semua pihak?

B. Bagaimana isu dibingkai? Integratif? Distributif? Redistributif?

1. Apakah masalahnya either-or dan zero-sum?
2. Dapatkah masalah-masalah yang distributif atau redistributif
dapat dibingkai secara integratif?
3. Dapatkah sumberdaya yang dipertikaikan ditingkatkan?

C. Bagaimana setiap pihak memandang pilihan yang tersedia bagi setiap isu atau masalah?

1. Apakah opsi dan alternatif telah dikembangkan bagi setiap
masalah pokok?
2. Apakah opsi yang ada didefinisikan secara jelas?
3. Apakah jalan keluar potensial telah dieksplorasi pihak-pihak
yang bertikai?
4. Apakah ada opsi dan jalan keluar yang memenuhi kebutuhan
semua pihak?
5. Apakah ada pihak yang merasa bahwa tidak ada opsi dan
solusi yang memenuhi kebutuhan mereka?

D. Apa data dan informasi yang diperlukan?

1. Apakah setiap pihak percaya bahwa data yang memadai tersedia?
2. Apakah data yang tersedia dan analisisnya dinilai benar dan dapat dipercaya oleh pihak-pihak yang bertikai?
3. Apakah setiap pihak merasa puas dengan data yang ada?

 

Konteks dan Latar Belakang

A. Apakah sejarah situasi konflik?

1. Apakah ada tahapan-tahapan konflik seperti laten, muncul,
berlarut, litigasi?
2. Apakah ada peristiwa eksternal yang mempengaruhi situasi?
Bagaimana? Apakah al itu akan mempengaruhi proses
pengambilan keputusan?

B. Apakah ada parameter eksternal yang harus diikuti?

1. Apakah ada peraturan dan regulasi yang mengatur situasi yang ada? Apakah ada fleksibilitas di sini?
2. Apakah ada situasi serupa yang hasilnya akan mempengaruhi apayang sedang terjadi?

 

C. Apakah ada proses formal yang tepat digunakan untuk menyelesaian isu ini?

1. Bisakah semua stakeholder menggunakan proses formal yang
ada?
2. Apakah proses formal yang ada bersifat administratif, legislatif,
atau konsensus?

Pertanyaan Penting Lainnya

A. Apakah ada forum yang dapat digunakan menyelesaikan masalah ini?

1. Apakah ada forum yang di masa lalu pernah digunakan menangani masalah ini? Apakah hasilnya produktif?
2. Apakah ada isu tertentu yang memerlukan forum tertentu?

B. Bagaimana setiap pihak melihat alternatif-alternatif penyelesaian
masalah?

1. Bagaimana pihak-pihak yang berkonflik memandang alternatif
yang tersedia bila negosiasi gagal? Apakah alternatif terbaik?
Apakah alternatif terburuk?
2. Apakah ada forum yang tidak memiliki kredibilitas menurut
sudut pandang pihak tertentu?

Read More

Tingkatkan Kualitas Anggota, Asisten SDM Kapolri Gelar Program Polri Belajar

Asisten Kapolri Bidang SDM Irjen Pol Wahyu Widada membuat gebrakan baru lewat Program Polri Belajar, Kamis (23/9/2021). Konsep programnya adalah seminar/motivational speech 2 arah dengan Wahyu sebagai mentor. Polri Belajar berdurasi 60 menit ini dibawakan Wahyu Widada secara rutin setiap Kamis secara daring. Peserta Program Polri Belajar adalah perwakilan 3 Perwira Pertama yang dipilih oleh Polda masing-masing dan 1 Perwira Pertama yang dipilih dari satker-satker Mabes Polri. Harapannya program ini dapat menjadi sarana mentorship untuk meningkatkan kualitas dan kapabilitas anggota polisi menuju Polri yang Presisi.

Wahyu membawakan topik perdana yaitu Membangun Kepercayaan Masyarakat. Dalam program mentorship ini, ia menekankan pentingnya legitimasi polisi dalam persepsi masyarakat. Legitimasi polisi dapat ditingkatkan melalui transformasi organisasi, salah satunya dalam komunikasi sosial anggota polisi. Komunikasi sosial yang lebih mendengarkan masyarakat dan cara penyampaian yang mudah pahami perlu dijalankan setiap anggota polisi. Wahyu menilai edukasi dan sosialisasi yang telah dilakukan anggota selama ini sudah bagus, tapi belum tentu menjawab kebutuhan masyarakat. “Anggota polisi harus membuka ruang untuk diskusi dengan masyarakat, sehingga intervensi yang diberikan dapat sinergis dan tepat sasaran,” kata Wahyu, Kamis (23/9/2021).

“Kepercayaan dari masyarakat tidak hanya harus dibangun, tapi selalu dirawat dan dipertahankan lewat adanya pengawasan secara berjenjang dan mengemban nilai moralitas serta humanis. Dengan demikian, penyelewengan dan pelanggaran dari internal anggota polisi berkurang dan kualitas anggota Polri dapat menjadi sosok yang dicontoh oleh masyarakat,” kata Wahyu.

Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/549364/14/tingkatkan-kualitas-anggota-asisten-sdm-kapolri-gelar-program-polri-belajar-1632413350

Read More

5 Cara Menjadi Polisi Yang Lebih Berempati

Dengan Memimpin dengan empati akan mewujudkan petugas polisi Presisi yang lebih bahagia dan lebih produktif.
Oleh: Dwiasi Wiyatputera, S.H., S.I.K., M.H. –  Kapolres Trenggalek, Polda Jawa Timur.

Ketika saya berbicara dengan seluruh petugas polisi dari bintara, Perwira Pertama Sampai dengan Pamen, salah satu hal yang ingin saya ingatkan adalah bahwa mereka semua adalah pemimpin. Dan Saya Selalu menyampaikan begitu Anda menjadi petugas yang diberi tugas wewenang tanggung jawab melalui surat Perintah sebagai Katim kanit sebagai komandan polisi di timnya atau sebagai komandan bagi diri sendiri, Anda harus belajar bagaimana menjadi pemimpin yang paling efektif. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan Anda adalah dengan meningkatkan kemampuan Anda memimpin menggunakan empati.

Pada tahun 2019, saya dipromosikan setingkat lebih tinggi dari Komisaris Polisi menjadi AKBP. Saat itu, menjabat sebagai Kabag Renmin Di suatu Direktorat Di Polda dengan job desk yaitu Membantu Direktur Dalam Penyusunan perencanaan jangka sedang dan jangka pendek, antara lain Renstra,  Renja, kebutuhan sarana prasarana, personel dan anggaran dengan berpedoman kepada kebijakan pimpinan. Pemeliharaan perawatan dan administrasi personel.Jumlah Personel Direktorat yang saya kelola berjumlah 700 personel termasuk direktorat terbesar yang bertugas penegakan hukum dengan Penyelidikan dan Penyidikan tindak pidana.

Jenis pekerjaan yang baru bagi saya dan tidak ada turunan pekerjaan untuk pelaksanaan tugas. Saya diberi beberapa garis dan diharapkan tahu apa yang harus dilakukan oleh Direktur. Saya sangat beruntung saya dibantu oleh staf saya ketika saya memulai tugas saya dengan garis-garis yang baru ditambahkan ke Bagian Kerja saya untuk ditugaskan ke seorang Direktur yang mendudukkan saya, memberi saya harapannya dan menjelaskan bahwa saya sekarang akan membantunya berkaitan dengan perencanaan, sarana prasarana, SDM dan Anggaran. “ijin Komandan Siap?” tanyaku, sedikit khawatir. “Ya, harus siap,” jawabnya. Sementara itu awalnya membuat saya kewalahan, saya segera menyadari bahwa dengan melakukan segalanya, saya akan dipaksa untuk belajar dengan cepat, dan itu mempersiapkan saya ketika Direktur saya meminta saran, dan perubahan itu menjadi tanggung jawab saya. Menyulap kebutuhan para perwira saya, serta kebutuhan Kantor saya, tidak selalu mudah. Sebagai Kabag baru, saya sangat ketat dan menuntut tim saya. Saya bekerja keras untuk mendorong mereka agar memenuhi harapan dan standar kami. Beberapa menghargai kepemimpinan semacam itu dan yang lainnya tidak.

Banyak yang ingin saya kerjakan Namun belajar dari kepemimpinan Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol Dr. Nico Afinta, S.H., S.I.K., M.H. Polda Metro Jaya pada Tahun 2017 yang mengatakan “Pemimpin adalah yang bertanggung jawab segala aktifitas Anak Buahnya ,Pemimpin harus tegas memberikan petunjuk dan arah kebijakan ,memberikan punish dan reward” dengan Laksanakan tugas kepolisian dengan memedomani Tugas Wewenang dan Tanggungjawab (TWT) diawali dengan perencanaan yang baik dan diakhiri dengan anev serta penerapan “reward and punishment” untuk memotivasi kinerja anggota,”sekarang saya baru tahu belajar tentang kekuatan memimpin dengan empati. Jangan pernah lupa bahwa Anda pernah menjadi polisi Baru berwajah segar yang ingin mengubah dunia.

Apa yang dimaksud dengan memimpin dengan empati? Saya mengartikannya berarti memiliki kemampuan memimpin untuk memahami emosi orang lain dan menggunakan pemahaman itu untuk memandu keputusan Anda sebagai seorang pemimpin. “Tapi segala keputusannya yang bertanggung jawab dan tidak peduli bagaimana perasaan staf saya dari keputusan saya !” SALAH! Karyawan Anda memiliki kemampuan untuk membuat atau menghancurkan Anda sebagai seorang pemimpin. Tentu, Anda dapat memimpin melalui ancaman dan kehadiran yang memerintah. Namun, itu hanya berfungsi untuk waktu yang singkat, dan tidak berfungsi sebaik menggunakan empati saat memimpin.

Berikut adalah lima cara untuk memasukkan empati sebagai pemimpin petugas polisi.

1. JELASKAN KEPUTUSAN /KEBIJAKAN ANDA

Akan ada saatnya Anda harus membuat keputusan dan perubahan kebijakan yang tidak populer. Jika Anda mengetahui hal ini sebelumnya dan benar-benar peduli bagaimana hal itu akan memengaruhi tim Anda, Anda dapat menyesuaikan pesan Anda dengan tepat.
Kepedulian tentang bagaimana keputusan dan kebijakan tersebut memengaruhi pejabat Anda adalah yang membedakan pemimpin yang baik dan yang buruk. Jika ini bukan keadaan darurat, coba jelaskan alasan di balik keputusan yang tidak populer itu. Jika Anda tidak menjelaskan alasannya, saya jamin staf Anda akan membuat penjelasan sendiri. Pastikan mereka mendapatkan alasan sebenarnya langsung dari Anda.

2. INGAT DARI MANA ANDA BERASAL

Lihat TWT Anda, Apakah tertulis Tugas di Skep sebagai Operator, Admin, Penyelidik, Penyidik Pemula, Trampil, Mahir atau Penyelia, .Ahli Muda, Ahli Madya, Ahli Utama. bahkan kepala? Itu pasti berbeda dengan yang dikatakan Bintara, Pama, Pamen sampai dengan Pati. Dengan penulisan surat perintah Tugas sebagai Operator, Admin, Kasi, Kanit, Kasat sampai dengan Kapolres, datang perubahan tanggung jawab. Sekarang lihat pangkat di leher kiri kanan baju Anda dan bacalah. Kemungkinannya, itu masih mengatakan hal yang sama ketika kamu lulus dari akademi atau SPN. Jangan pernah lupa bahwa Anda pernah menjadi rookie (polisi Baru ) berwajah segar yang ingin mengubah dunia. Bagaimana Anda yang lebih muda menanggapi perintah yang baru saja Anda berikan kepada petugas Anda?

3. TURUN KE LAPANGAN

Kapan terakhir kali Anda meninggalkan kantor dan menghentikan lalu lintas atau menulis laporan? Jika itu tidak terjadi selama bertahun-tahun, kembalilah ke jalan dan berhenti sejenak atau tulis laporan sederhana. Anda tidak hanya akan mendapatkan rasa hormat dari petugas Anda, tetapi Anda juga mendapatkan perspektif yang mudah hilang saat bekerja di kantor. Bagaimana Anda sebagai pemula akan memandang kmandan Anda jika Anda mendengarnya di HT membuat lalu lintas berhenti?

4. AJAR PROGRAM KEPEMIMPINAN DI SATUAN ANDA

Salah satu pengalaman yang paling berharga dalam karir saya telah menginstruksikan semua tingkat program pelatihan kepemimpinan di Bagian SUbdit Satuan saya. Program kami mengajarkan filosofi kepemimpinan Satuan Kami dan keterampilan yang dibutuhkan di setiap peringkat dalam rantai komando. Sungguh menakjubkan betapa terbuka dan jujurnya para peserta Pelatihan ketika mereka mendengar apa yang kita harapkan dan membandingkannya dengan apa yang mereka alami sehari-hari. Percakapan yang jujur ​​​​itu membuat saya bekerja untuk menanamkan budaya akuntabilitas di bagian saya sendiri. Budaya akuntabilitas itu bekerja dua arah. Saya meminta pertanggungjawaban supervisor yang bekerja untuk saya dan saya berharap mereka meminta pertanggungjawaban saya. Kita semua tahu apa yang diharapkan Subsatker. Terserah kita untuk memastikan kita memenuhi harapan itu.
Jika Satuan Anda tidak memiliki program kepemimpinan, saya sangat menganjurkan Anda untuk memulainya. Mengajarkan semua petugas strategi kepemimpinan Anda akan menghasilkan lebih banyak dukungan dan mengembangkan budaya akuntabilitas yang baru saja saya sebutkan.

5. KETAHUI ORANG ANDA

Dalam artikel sebelumnya, saya mendorong petugas polisi untuk menunjukkan kepada publik bahwa mereka peduli. Sebagai seorang polisi, tips itu bahkan lebih penting. Jika Anda dapat menunjukkan kepada petugas Anda bahwa Anda peduli, mereka akan lebih bahagia, lebih produktif, dan membuat satuan menjadi lebih baik. Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa Anda peduli adalah dengan mengenal orang-orang Anda. Luangkan waktu untuk berbicara dengan staf Anda kapan pun Anda bisa. Pelajari tentang kesukaan, ketidaksukaan, dan keluarga mereka sendiri. Saya sering mendengar orang mendeskripsikan bagian atau departemen mereka sebagai sebuah keluarga. Jika itu adalah keluarga, dapatkah Anda mengingat nama semua orang tanpa melihat nametag mereka? Ini lebih sulit di satuan yang lebih besar tetapi tetap coba. Memanggil seseorang dengan nama mereka ketika Anda adalah bos dan mereka tidak dalam masalah akan sangat membantu.

Cara lain untuk mengenal petugas Anda adalah dengan memanggil mereka ke ruangan Anda untuk mengobrol. Ya, mereka mungkin akan gugup untuk pertama kalinya. Setelah Anda menunjukkan bahwa Anda hanya ingin mengenal mereka, mereka akan lebih nyaman dan terbuka. Ini mungkin membuat atasan langsung mereka gugup. Lakukan saja. Sebagai seorang pemimpin, Anda harus menjalin hubungan dengan orang-orang yang Anda pimpin.
Saya tidak menyarankan kita meninggalkan rantai komando. Ada judul dan posisi karena suatu alasan. Namun, hanya karena gelar Anda adalah Kepala, bukan berarti Anda tidak perlu peduli dengan perwira Anda. Ketika saya masih baru, saya diberitahu bahwa saya bahkan tidak bisa melihat pelaksana saya. Sekarang saya memutuskan untuk berbicara dengan petugas terbaru sehingga dia tahu saya tidak lebih baik dari dia dan bahwa saya peduli padanya sebagai pribadi. Cobalah. Anda akan kagum dengan tanggapan yang Anda dapatkan.  Apakah Anda seorang bintara baru atau perwira senior, saya harap Anda menemukan tips ini berguna dan dapat memasukkannya ke dalam rutinitas harian Anda.

9 Februari 2022
Oleh: Dwiasi Wiyatputera SH  SIK MH –  Kapolres Trenggalek, Polda Jawa Timur.

Read More